anggidetyas

just a little blog :)

Masyarakat Indonesia sebagi Masyarakat Informasi December 13, 2012

remaja

Tingginya kebutuhan akan Informasi yang ingin didapatkan oleh masyarakat Indonesia dewasa ini, dengan di fasilitasi oleh kecanggihan teknologi, alat komunikasi, kemudahan akses internet melalui jaringan free wifi, alat teknologi penunjang kemudahan bertransaksi, dan kemampuan bertukar data digital secara jarak jauh melalui internet  menjadi salah satu contoh ciri bahwa masyarakat Indonesia sedang memasuki tahap sebagai Masyarakat Informasi.

Masyarakat Informasi adalah sebuah konsep luas yang mulai digunakan sejak tahun 1970-an untuk merujuk pada berbagai perubahan sosial dan ekonomi yang terkait dengan meningkatnya dampak dan peran teknologi informasi. Konsep ini menonjolkan peran yang dimainkan oleh teknologi informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tempat kerja, perjalanan dan sarana hiburan yang tersedia. Bagaimana tidak, semua kegiatan yang dilakukan mulai dari membuka mata di pagi hari sampai menutup mata dimalam hari selalu ditemani oleh teknologi. Sebut saja penggunaan alarm di Smartphone, mengetik tugas melalui laptop dan mengirimkan nya melalui email, browsing menggunakan wifi sampai menarik uang di Anjugan Tunai Mandiri yang tersebar dihampir sluruh jalanan kota besar di Indonesia. Munculnya media massa cetak maupun elektronik dan internet merupakan salah satu media pemuas Informasi bagi Masyarakat.

Masyarakat dewasa ini aktif mencari jawaban akan kebutuhannya, ini menandakan masyarakat Indonesia telah membuka pikirannya untuk berkembang agar dapat mengikuti arus Globalisasi yang akhir-akhir ini marak menerpa Indonesia. Dengan banyaknya inovasi alat teknologi yang canggih, tidak semua masyarakat Indonesia siap dalam menerima alat teknologi ini, dilatarbelakangi oleh pendidikan dan pengetahuan yang kurang akan fungsi dan tujuan diciptakannya teknologi tersebut.

Menurut teori Difusi Inofasi yang dikemukakan oleh Everett M. Rogers difusi menganduung arti sebagai proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu  di antara para anggota  suatu sistem social atau suatu jenis khusus komunikasi yang berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan sebagai ide baru. Ini berkaitan dengan Masyarakat Informasi yang telah tersentuh teknologi.

inovasi dari sebuah teknologi komunikasi akan diterima masyarakat melalui beberapa tahapan proses Difusi Informasi yang dikemukakan oleh Rogers yaitu pertama tahap pengetahuan, dapat diambil contoh dari munculnya iPhone dari Apple, pada tahap pengetahuan ini adalah proses kesadaran individu akan adanya inovasi dan adanya pemahaman tertentu tentang bagaimana inovasi tersebut berfungsi, dengan fitur yang canggih dan design yang elegan, iPhone dengan cepat tersebar dan menjadi barang yang populer. Bahkan di Indonesia merk dari apple sendiri telah menjelma menjadi suatu ciri dari kalangan sosial tertentu. Selanjutnya ada tahap persuasi, pada tahap ini individu membentuk sikap setuju tidak setuju terhadap inovasi, seperti yang sudah disebutkan diatas tadi, iPhone telah diterima masyarakat Indonesia secara umun, terbukti dari antusiasme masyarakat Indonesia pada saat menunggu adanya inovasi terbaru dari iPhone (re:iPhone5) menjadikannya trending topic pada 2 Agustus 2012 tentang harganya dan pada 1 September2012 tentang kesediaan membeli iphone5 atau sekedar mengupgradenya. Trending topik ini bertahan selama 5 hari. Ini menjadi bukti kecil bahwa masyarakat Indonesia suka dan menerima dengan adanya iphone5, terlebih Indonesia adalah pengguna twitter ketiga di dunia. Tahap selanjutnyya lebih kepada tahap yang berbuah perilaku, yaitu tahap keputusan, pada tahap ini individu melibatkan diri pada aktivitas yang mengarah pada pilihan untuk menerima atau menolak inovasi, pada Rabu, 12 September 2012 Apple melaunching iPhone5 di Jakarta, antusiasme pengunjung dapat terasa dengan penuhnya pengunjung saat launching. Menurut http://inet.detik.com jumlah pre-order iphone5 satu minggu sebelum launching sebesar dua juta unit,ini memecahkan rekor dari keluaran iphone sebelumnya, dan menurut http://m.oktomagazine.com pengguna iphone di Indonesia sampai saat ini mencapai 10.06% dari seluruh masyarakat Indonesia. angka yang cukup besar mengingat jumlah populasi masyarakat Indonesia yang juga besar dibandingkan dengan masyarakat di negara lain. Tahap terakhir adalah konfirmasi, tahap ini merupakan tahap dimana individu mencari penguatan (dukungan) terhadap keputusan yang dibuatnya, tapi mungkin saja berbalik keputusan jika ia memperoleh isi pernyataan yang bertentangan. Iphone sudah mempunyai positioning yang baik dimata masyarakat Indonesia, banyak yang menyebutkan bahwa dengna memililiki salahsatu produk dari apple menjadikan mereka sebagai icon borjuis dan memiliki status sosial yang tinggi. Ini sudah membuktikan bahwa masyarakat mempunyai dukunga satu sama lain, sesama pengguna mengklaim akan hal itu, dan masyarakat yang tidak menggunakan pun turut mengamini.

Dengan bermunculannya teknologi-teknologi baru di Indonesia, sebagian menjadikannya sebagai alat yang berguna untuk menunjang kegiatannya, ada pula yang menjadiikannya sebagai icon ‘gaul’. Dengan beragammnya latar belakang sosial juga luasnya daerah yang terdapat di Indonesia memungkinkan penyebaran dari inovasi-inovasi teknologi tidak merata. Contohnya saja di wilayah perkotaan dan pesisir. Masyarakat wilayah perkotaan meiliki kebutuhan akan informasi, pemasukan finansial, dan kebutuhan untuk eksistensi diri yang lebih besar dibandingkan dengan masyarakat di daerah. Ini menimbulkan apa yang disebut dengan kesenjangan degital.

Kesenjangan digital adalah kesenjangan (gap) antara individu, rumah tangga, bisnis, (atau kelompok masyarakat) dan area geografis pada tingkat sosial ekonomi yang berbeda dalam hal kesempatan atas akses teknologi informasi dan komunikasi/TIK (information and communication technologies/ ICT) atau telematika dan penggunaan internet untuk beragam aktivitas. Kesenjangan terjadi bukan hanya soal kesenjangan ‘miskin-kaya’, ‘kota-desa’, ‘gaul-cupu’, tetapi masalah pendidikan masyarakat dan infrastruktr yang harus lambat laun dipenuhi oleh pemerintah. Bila infrastuktur saja sudah matang tetapi pendidikan yang dikenyam masyarakat tidak cukup, bukan menghasilkan masyarakat informasi yang aktif malah akan berdampak negatif seperti penyalahgunaan internet untuk tindakan kriminal dan pornografi. Kesenjangan ini dapat diatasi dengan melakukan sedikit demi sedikit memperkenalkan inovasi terbaru pada daerah yang berpenduduk kurang mampu dan mempunyai latar belakang pendidikan kurang, dididik dan dilatih agar penggunaan inovasi teknologi tidak sia-sia dan disalahgunakan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s